Daftar Gunung yang Ditutup 2026, Cek Status Sebelum Mendaki

Rubikindo.com – Berencana mendaki gunung dalam waktu dekat? Sebaiknya jangan langsung berangkat hanya karena cuaca di kota terlihat cerah. Sejumlah gunung yang ditutup 2026 masih memberlakukan penghentian sementara aktivitas pendakian karena kebakaran hutan dan lahan, risiko karhutla selama musim kemarau, hingga proses pemulihan ekosistem.

Memasuki September 2026, Kementerian Kehutanan menerapkan kebijakan penutupan sementara maupun pembukaan terbatas wisata pendakian di kawasan konservasi berdasarkan tingkat risiko kebakaran. Kebijakan tersebut efektif sejak 1 September 2026 dan dapat berubah mengikuti kondisi lapangan.

Karena itu, status jalur pendakian harus diperiksa kembali sebelum melakukan perjalanan.

Pembaruan terakhir: 17 September 2026.

Daftar Gunung yang Ditutup 2026

Daftar Gunung yang Ditutup 2026, Cek Status Sebelum Mendaki

Berdasarkan pengumuman dan informasi terbaru yang ditemukan hingga 17 September 2026, beberapa kawasan pendakian yang masih diberlakukan penutupan antara lain:

GunungWilayahStatus terakhirAlasan utama
Gunung ArgopuroJawa TimurDitutupKebakaran hutan
Gunung SemeruJawa TimurDitutupKarhutla Blok Ranu Kembang
Gunung RaungJawa TimurDitutup sementaraKebakaran dekat jalur pendakian
Gunung Gede PangrangoJawa BaratDitutup hingga pemberitahuan berikutnyaPemulihan dan risiko karhutla
Gunung CiremaiJawa BaratDitutup sementaraPencegahan karhutla
Gunung TamboraNTBDitutup sementaraRisiko karhutla

Perlu dibedakan antara gunung yang sedang ditutup sementara dengan gunung yang memang tidak memiliki jalur pendakian resmi atau dilarang didaki.

Rubikindo sebelumnya juga membahas daftar gunung yang tidak boleh didaki di Indonesia beserta alasan larangannya.

1. Gunung Argopuro – Jawa Timur

Gunung Argopuro menjadi salah satu kawasan dengan kondisi paling serius pada September 2026.

Balai Besar KSDA Jawa Timur menutup seluruh kegiatan kunjungan ke Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, kawasan tempat jalur pendakian Argopuro berada, mulai 7 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Penutupan dilakukan setelah kebakaran hutan berkembang dan bergerak mendekati kawasan Savana Cikasur, salah satu lokasi paling terkenal di jalur panjang Argopuro.

Situasi tersebut belum langsung selesai setelah penutupan. Pada 14 September, petugas masih melakukan pengendalian kebakaran di sejumlah lokasi, termasuk Gunung Gilap, Gunung Pinggang, Gunung Rabunan, dan Blok Aeng Kenik. Hingga 13 September, area kebakaran yang telah dipetakan mencapai sekitar 488 hektare.

Bahkan pada 16 September, BBKSDA Jawa Timur masih melaporkan adanya asap tipis dan bara di kawasan tersebut.

Artinya, pendaki sebaiknya tidak mencoba masuk melalui jalur alternatif atau jalur tidak resmi hanya karena tidak melihat api dari bawah.

Status per 17 September 2026: ditutup.

2. Gunung Semeru – Jawa Timur

Pendakian Gunung Semeru juga masih menjadi perhatian setelah kebakaran terjadi di kawasan Blok Ranu Kembang.

BACA JUGA:  Eksplorasi Wisata Religi: Destinasi Spiritual Terpopuler di Dunia

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menutup aktivitas pendakian sejak 26 Agustus 2026.

Penutupan tersebut masih diberlakukan pada awal hingga pertengahan September. Bahkan pada 7–8 September, sejumlah pendaki ditemukan memasuki kawasan melalui jalur ilegal ketika jalur resmi masih ditutup. Balai Besar TNBTS kemudian memperketat pengawasan terhadap akses tidak resmi.

Ini penting karena kondisi gunung tidak dapat dinilai hanya berdasarkan cuaca di pintu masuk.

Karhutla dapat meninggalkan bara, vegetasi kering, dan kawasan rawan yang belum sepenuhnya aman meskipun nyala api sudah tidak terlihat.

Status terakhir yang terverifikasi: pendakian ditutup.

3. Gunung Raung – Jawa Timur

Gunung Raung juga masuk dalam daftar gunung yang ditutup 2026 setelah terjadi kebakaran di kawasan puncaknya pada awal September.

Kebakaran yang terpantau pada 8 September berada tidak jauh dari jalur pendakian. Meski luas kebakaran yang dilaporkan relatif terbatas dan berhasil ditangani petugas, pengelola tetap memilih menutup jalur sebagai langkah pencegahan.

Perum Perhutani KPH Banyuwangi Barat menyatakan penutupan dilakukan untuk menghindari risiko yang dapat membahayakan pendaki.

Kepulan asap yang terlihat di lereng atas bagian selatan Raung saat itu juga dipastikan berasal dari kebakaran lahan, bukan akibat aktivitas erupsi gunung api.

Dalam laporan yang sama, jalur pendakian Gunung Ranti di kawasan sekitar TWA Kawah Ijen juga ditutup sementara.

Status terakhir yang ditemukan: ditutup sementara.

4. Gunung Gede Pangrango – Jawa Barat

Untuk pendaki di Jabodetabek dan Jawa Barat, penutupan Gunung Gede Pangrango menjadi salah satu yang cukup signifikan.

Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memperpanjang penutupan pendakian mulai September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Kebijakan tersebut dilakukan setelah sebelumnya terjadi kebakaran di kawasan Alun-alun Suryakancana dan Kawah Wadon, sekaligus sebagai langkah pencegahan karena kondisi musim kemarau membuat vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.

Meskipun titik api telah padam, pengelola menilai risiko kebakaran susulan masih harus diperhitungkan.

Pendaki yang telah melakukan pemesanan sebelumnya juga diberikan mekanisme pengembalian dana atau penjadwalan ulang melalui pengelola.

Status berdasarkan pengumuman resmi terakhir yang terverifikasi: ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

5. Gunung Ciremai – Jawa Barat

Seluruh jalur pendakian Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan dan Majalengka ditutup mulai 6 September 2026.

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai menjelaskan bahwa penutupan dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

Penutupan berlaku sampai kondisi risiko kebakaran di kawasan Gunung Ciremai dinyatakan aman. Layanan pemesanan daring bahkan sudah dihentikan sejak 1 September 2026.

Kebijakan tersebut juga mengacu pada surat edaran Kementerian Kehutanan mengenai pencegahan kebakaran hutan di kawasan konservasi.

Jadi meskipun kondisi cuaca pada hari tertentu terlihat bagus, bukan berarti jalur otomatis boleh digunakan.

Status per pengumuman terakhir: ditutup sementara.

6. Gunung Tambora – Nusa Tenggara Barat

Gunung Tambora juga menutup aktivitas wisata pendakian mulai 1 September 2026 karena meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

BACA JUGA:  10 Situs Terbaik untuk Menemukan Diskon Liburan Impian Anda

Balai Taman Nasional Tambora menyatakan penutupan merupakan tindak lanjut kebijakan KSDAE terkait pencegahan kebakaran selama puncak musim kemarau.

Penutupan mencakup jalur-jalur pendakian utama di kawasan Taman Nasional Tambora.

Kondisi sabana dan vegetasi kering menjadi perhatian khusus karena api dapat berkembang dengan cepat ketika kondisi cuaca panas, kelembapan rendah, dan angin cukup kuat.

Status terakhir yang ditemukan: ditutup sementara sampai kondisi dinilai aman.

Kenapa Banyak Gunung Ditutup Saat Musim Kemarau?

Penutupan gunung bukan hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi.

Dalam kondisi tertentu, jalur bisa ditutup sebelum muncul kebakaran karena tingkat risikonya dianggap terlalu tinggi.

Vegetasi yang kering dapat berubah menjadi bahan bakar alami. Percikan kecil dari aktivitas manusia, puntung rokok, penggunaan api, maupun sumber panas lain dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.

Kondisi medan pegunungan juga membuat pemadaman jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran di area terbuka yang mudah dijangkau.

Kementerian Kehutanan pada akhir Agustus 2026 kemudian menerbitkan kebijakan yang memungkinkan pengelola kawasan konservasi menerapkan penutupan sementara ataupun pembukaan terbatas berdasarkan manajemen risiko karhutla.

Situasi karhutla sendiri masih perlu mendapat perhatian. Per 15 September 2026 malam, Kementerian Kehutanan mencatat 1.037 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional, meskipun jumlah tersebut telah turun sekitar 400 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya.

Apakah Gunung yang Ditutup Bisa Dibuka Kembali?

Bisa.

Sebagian besar gunung dalam daftar ini mengalami penutupan sementara, bukan larangan pendakian permanen.

Pengelola dapat membuka kembali jalur ketika beberapa kondisi telah terpenuhi, seperti kebakaran dinyatakan terkendali, tidak ada lagi bara berbahaya, tingkat risiko karhutla menurun, jalur dinilai aman, serta ekosistem memiliki waktu pemulihan yang cukup.

Karena itu, status gunung bisa berubah hanya dalam hitungan hari atau minggu.

Artikel yang mengatakan sebuah gunung “ditutup” beberapa minggu lalu belum tentu masih akurat ketika kamu hendak mendaki.

Cara Mengecek Status Pendakian Sebelum Berangkat

Jangan hanya mengandalkan unggahan TikTok, grup WhatsApp, atau informasi dari pendaki lain. Selain mengecek status, pelajari juga aturan dan tips mendaki gunung jika kalian pemula.

Sebelum berangkat, periksa informasi terbaru dari balai taman nasional, BKSDA/BBKSDA, Perhutani atau pengelola resmi kawasan. Cek pula sistem booking resmi karena penonaktifan reservasi sering menjadi indikator bahwa pendakian sedang dibatasi.

Perhatikan tanggal pengumuman. Informasi penutupan dari beberapa bulan lalu bisa saja sudah tidak berlaku.

Kalau pengelola mengatakan kawasan ditutup sampai pemberitahuan selanjutnya, anggap jalur masih ditutup sampai ada pengumuman resmi pembukaan kembali.

Jangan Nekat Mendaki Lewat Jalur Ilegal

Penutupan jalur bukan sekadar aturan administratif.

Ketika sebuah kawasan mengalami kebakaran, jalur dapat tertutup asap, pohon yang sebelumnya terbakar bisa tumbang, persediaan air dapat berubah, dan petugas sedang berkonsentrasi pada operasi pemadaman atau pemulihan.

Pendaki ilegal juga dapat membuat proses pencarian dan penyelamatan jauh lebih sulit.

Kasus di Semeru pada September 2026 menjadi contoh bahwa pengawasan tetap dilakukan meskipun pendakian resmi sedang ditutup.

Menunda pendakian beberapa minggu jelas lebih masuk akal daripada mempertaruhkan keselamatan dan menambah beban petugas di kawasan konservasi.

Kesimpulan

Ada sejumlah gunung yang ditutup 2026, terutama selama periode musim kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran hutan.

Berdasarkan informasi yang dapat diverifikasi hingga 17 September 2026, Gunung Argopuro, Semeru, Raung, Gede Pangrango, Ciremai, dan Tambora termasuk kawasan yang status pendakiannya masih ditutup atau diberlakukan penutupan sementara berdasarkan pengumuman terakhir yang tersedia.

Namun daftar ini bukan status permanen.

Pengelola dapat mengubah kebijakan sewaktu-waktu mengikuti perkembangan kebakaran, cuaca, kondisi jalur, dan tingkat risiko kawasan.

Karena itu, selalu periksa pengumuman resmi beberapa hari bahkan beberapa jam sebelum perjalanan.

Gunung tidak akan pergi ke mana-mana. Jika jalur sedang ditutup, menunggu hingga kondisi benar-benar aman adalah bagian dari menjadi pendaki yang bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *